Indonesia bangkit! Bantu bertahan! Di NTT, ribuan keluarga masih mengungsi & Kalimantan, api dan asap masih mengancam

Bersama Tanggap Bencana Gempa NTT & Karhutla Kalimantan

KALIMANTAN — KARHUTLA MASIH MENJADI ANCAMAN

Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan masih menjadi perhatian serius. Data Kementerian Kehutanan per 29 Agustus 2026 menunjukkan peningkatan hotspot yang cukup tajam di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

Kalimantan Tengah mencatat 8.488 hotspot, sedangkan Kalimantan Barat mencapai 6.526 hotspot. Kalimantan Selatan memang mengalami penurunan menjadi 867 hotspot, tetapi kondisi keseluruhan masih dinamis dan pemerintah tetap dalam posisi siaga penuh.

Dampak kebakaran juga tidak hanya berupa api. Asap telah memengaruhi kualitas udara di sejumlah wilayah. Di beberapa titik Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, kualitas udara bahkan mencapai kategori berbahaya. Jarak pandang di Pontianak tercatat sekitar 0,8 kilometer dan di Banjarmasin sekitar 0,5 kilometer akibat kondisi berasap.

Hingga 29 Agustus, tercatat 112 laporan kejadian karhutla dan groundcheck firespot di 11 provinsi. Sebanyak 47 kejadian telah dipadamkan, sementara 65 lainnya masih dalam proses pemadaman.

Di lapangan, kebutuhan tidak hanya berupa pemadaman api, tetapi juga perlindungan masyarakat dari dampak asap, perlengkapan bagi petugas, dukungan logistik, masker, layanan kesehatan, serta penguatan operasi pemadaman dan patroli.

NTT — MASIH BERJUANG SETELAH GEMPA M7,7

Dua pekan setelah gempa M7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026, dampaknya masih sangat besar.

Hingga 30 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB, BNPB mencatat 111 orang meninggal dunia dan 1.631 orang mengalami luka-luka. Dari jumlah tersebut, 223 orang mengalami luka berat dan 1.408 lainnya luka ringan.

Sebanyak 188.161 warga masih berada di pengungsian. Konsentrasi pengungsi terbesar berada di Kabupaten Manggarai dengan 50.556 orang dan Kabupaten Nagekeo dengan 50.574 orang. Sejumlah wilayah lain seperti Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ngada, Sikka, dan Ende juga masih menampung banyak penyintas.

Kerusakan rumah mencapai 95.567 unit, terdiri dari 46.161 rumah rusak ringan, 21.992 rusak sedang, dan 27.414 rusak berat. Kondisi ini membuat kebutuhan hunian sementara atau relokasi menjadi salah satu kebutuhan paling mendesak bagi puluhan ribu keluarga.

Aktivitas bumi juga belum sepenuhnya berhenti. Hingga 30 Agustus tercatat 9.765 gempa susulan, dengan 155 di antaranya dirasakan masyarakat. Gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,2. Aktivitas susulan diperkirakan masih dapat berlangsung selama beberapa minggu setelah gempa utama.

DUA BENCANA, DUA PERJUANGAN.

Di Kalimantan, masyarakat masih menghadapi api dan asap yang mengancam hutan, satwa, lingkungan, dan kesehatan.

Di NTT, ratusan ribu warga masih berjuang menjalani kehidupan setelah gempa merenggut nyawa, merusak puluhan ribu rumah, dan memaksa mereka meninggalkan tempat tinggal.

Mereka tidak hanya membutuhkan doa.

Mereka membutuhkan dukungan nyata untuk bertahan, pulih, dan kembali membangun kehidupan. Mari saling kuatkan! Bantu saudara sebangsa!