Krisis Air Melanda Uganda & Afrika

Uganda dan Afrika hidup bertahun-tahun dengan keterbatasan air bersih. Tak mudah bagi mereka untuk bisa mandi, mencuci dan minum. Bagaimana nasib mereka kelak?

Dilansir dari lifewater.org (Sumber: lifewater.org), 8.000.000 warga Uganda, Afrika Timur harus minum air dari sungai, kolam dan bahkan galian tanah. Tak ada botol kemasan dan atau saluran keran seperti kita di rumah.

Mereka harus bertahan dengan sumber-sumber air yang lama kelamaan berubah menjadi keruh. Tentu, karena pemakaian yang terus menerus.

Terlebih, 32% dari populasi di Uganda memiliki akses menuju saluran air yang terbatas. Butuh sekiranya 30 menit untuk bisa mengambil seember air. Itu pun kadang harus antre dengan warga lainnya.

Keterbatasan air bersih tentu tidak terlepas dari penggunaan toilet dan akses sanitasi. 64% warga Uganda tidak memiliki fasilitas toilet yang higienis. 58%-nya menggunakan ember sebagai tempat pembuangan.

Bahkan 6%-nya terpaksa memiliki toilet di lapangan terbuka seperti lapangan dan hutan.

Semua yang sudah terbuang akan lalu hanyut oleh hujan dan mungkin bisa saja malah ikut tercampur ke dalam sungai dan kolam. Padahal sungai dan kolam menjadi salah satu sumber air bersih warga Uganda. Sangat berbahaya.

Kebiasaan mencuci tangan juga menjadi jarang di sana. Bagaimana tidak? Tidak ada saluran air mengalir yang mampu membuat tangan-tangan mereka bersih dari kotoran.

47% populasi di Uganda tidak memiliki tempat yang baik untuk mencuci tangan. 32%-nya sudah memiliki fasilitas cuci tangan, namun tidak memiliki sumber air serta sabunnya. Beberapa dari mereka hanya memiliki alat cuci tangan sederhana dari jerigen yang diikat terbalik dengan tali tipis di atas kayu.

Sahabat, kita semua tahu bahwa kebutuhan air sangatlah penting bagi kehidupan. Tidak ada air bersih, maka kita tidak bisa minum. Kalau badan terus menerus dipaksa untuk mengonsumsi air keruh pun akan berpengaruh buruk bagi kesehatan. Satu dari 22 anak di Uganda pun tidak bisa bertahan hingga umur 5 tahun akibat penyakit diare berkepanjangan.

Bagaimana nasib Uganda apabila terus menerus bertahan dengan kondisi menyedihkan itu?

Sahabat, melihat itu Tim Life For Ummah & Mitra berinisiatif untuk terjun langsung membantu masyarakat Uganda.

Setelah melakukan survey di 3 distrik di Uganda, kebutuhan-kebutuhan air di sana sudah mulai bisa dipetakan. Seperti Kayamudamu Village, Distrik Bukedea. Lokasi desa ini berada kurang lebih 50 kilometer dari Kota Mbale di bagian Timur Uganda. Untuk bisa sampai di Mbale pun butuh waktu 5 jam perjalanan darat dari Kampala, Ibukota Uganda.

Dari sana dilanjutkan 2 jam perjalanan untuk bisa sampai ke Desa Kadenge Village. Tempatnya terpencil dan terpelosok. Sepanjang jalan hanya ada ladang jagung, singkong, pisang dan umbi-umbian. Mayoritas dari mereka bekerja menjadi petani untuk bertahan hidup.

Namun, hasil perkebunan mereka yang minim air jauh kualitasnya dibandingkan dengan daerah-daerah lain dengan saluran air lebih baik. Tidak jarang hasil kebun seperti singkong dan jagung mereka santap sendiri karena tidak laku terjual. Padahal itu menjadi satu-satunya cara mereka untuk bisa bertahan hidup.

Melihat itu, mari terus bergandengan untuk melakukan pengadaan sumur air bersih bagi masyarakat Uganda yang membutuhkan, terutama yang tinggal di pedalaman dan pelosok akan lebih diutamakan.

Penggalian akan dilakukan hingga lebih dari 15-20 meter ke bawah tanah. Menyesuaikan dengan kontur tanah tempat mereka tinggal. Penyelesaian satu sumur tidak akan sebentar namun tiap bantuan dari Sahabat Baik pasti akan memudahkan.

Mari bergerak bersama untuk bantu salurkan air bersih di Uganda, Afrika Timur.

Patungan ikut bangun sumur-sumur saluran air yang akan sangat berguna untuk kehidupan jutaan masyarakat di sana.

Satu tetes air sangatlah berarti untuk mereka dan satu senyuman di wajah mereka sangat berarti untuk kita. Salurkan dukungan terbaikmu untuk Uganda dengan cara: "Sedekah apa yang paling engkau sukai." Jawab beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, "Sedekah air." (HR. Abu Daud, no. 1679)

Berapapun donasi yang teman-teman berikan, itu akan sangat bermanfaat untuk para penerima manfaat.

Jazakumullah Khairan Katsiran.